makasih y ats uploadnya....
|
||||||||
![]() |
||||||||
|
|
||||||||
|
BRILLIANCE OF THE MOON - LIAN HEARN
~syauqi_arr@yahoo.co.id SEHELAI bulu itu ada di telapak tanganku. Aku memegangnya dengan hati-hati, sadar akan usia dan kerapuhannya. Warnanya yang putih masih tembus cahaya, sedangkan ujung bulunya yang berwarna merah tampak berkilau. "Itu bulu burung suci, houou," ujar Matsuda Shingen, Kepala Biara Terayama. "Burung itu muncul saat ayah angkatmu, Shigeru, berumur lima belas tahun, lebih muda dari kau saat ini. Dia pernah mengatakannya padamu, Takeo?" Aku mengangguk. Matsuda dan aku sedang berdiri di ruangannya, di ujung salah satu beranda yang dikelilingi halaman utama biara. Dari luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara yang biasa terdengar di biara, lantunan doa dan bunyi lonceng, kemudian terdengar suara orang yang berlalu-lalang. Aku mendengar Kaede, istriku, sedang berbicara dengan Amano Tenzo di luar gerbang. Mereka sedang membicarakan masalah persediaan makanan untuk pasukan selama di perjalanan. Kami sedang bersiap-siap berangkat ke Maruyama untuk menuntut hak Kaede sebagai pewaris sah juga untuk merebutnya bila terpaksa. Sejak akhir musim dingin, para ksatria berdatangan ke Terayama untuk bergabung denganku dan kini pasukanku berjumlah ribuan orang, menginap di biara dan di desa sekitar, belum termasuk para petani dari wilayah sekitar yang mendukung perjuanganku. Amano berasal dari Shirakawa, tanah leluhur istriku. Dia adalah pengawal yang paling Kaede percaya, penunggang kuda yang hebat dan ahli menjinakkan hewan. Beberapa hari setelah kami menikah, Kaede dan pelayannya, Manami menunjukkan keahlian yang mengagumkan dalam mengurus serta mendistribusikan makanan dan peralatan. Mereka berdua mendiskusikan semuanya dengan Amano dan memintanya untuk menyampaikan keputusan mereka pada seluruh pasukan. Pagi itu Amano sedang menghitung gerobak sapi dan kuda beban yang dapat digunakan. Aku mencoba untuk berhenti mendengarkan, berkonsentrasi pada apa yang sedang Matsuda katakan, tapi aku gelisah, ingin segera pergi dari situ. "Bersabarlah," ujar Matsuda ringan. "Sebentar saja. Apa yang kau tahu tentang burung houou?" Dengan enggan aku alihkan lagi perhatian pada bulu di telapak tanganku dan mencoba mengingat-ingat apa yang guruku, Ichiro, pernah ajarkan saat aku masih di rumah Lord Shigeru di Hagi. "Itu adalah burung suci yang akan muncul saat keadilan dan kedamaian terwujud. Dan namanya ditulis dengan karakter huruf yang sama dengan tulisan nama klanku, Otori." "Benar," kata Matsuda sambil tersenyum. "Burung itu jarang muncul karena kini keadilan dan kedamaian sangat langka. Tapi Shigeru melihatnya dan aku percaya penampakan itu membuatnya terinspirasi untuk mewujudkan nilai-nilai kebajikan ini. Kemudian aku katakan padanya bahwa bulu itu sudah bernoda darah, dan ternyata memang darah serta kematiannya yang masih menggerakkan kita, kau dan aku." Kulihat bulu itu lebih dekat lagi. Bulu itu tergeletak melintang di atas bekas luka di telapak tangan kananku. Bekas luka terbakar yang sudah lama sekali kudapat, yaitu di Mino, desa tempat kelahiranku, saat Shigeru menyelamatkanku. Di telapak tanganku juga tergambar garis lurus Kikuta, keluarga Tribe, suku asalku. Warisan, masa lalu dan masa depanku tampak di sana, dalam genggaman tanganku. "Mengapa kau perlihatkan padaku?" "Kau akan segera pergi. Kau telah bersama kami selama musim dingin, belajar dan berlatih untuk memenuhi amanat terakhir Shigeru. Aku ingin kau tahu apa yang Shigeru lihat untuk mengingatkan bahwa tujuan Shigeru adalah keadilan, sehingga tujuanmu juga harus sama." "Aku tidak akan melupakannya," aku berjanji. Aku membungkuk hormat pada bulu burung itu, memegangnya hati-hati dengan dua tangan dan mengembalikannya ke tangan Kepala Biara. Dia mengambilnya, memberi hormat lalu memasukkannya lagi ke dalam kotak kecil tempat dia mengambilnya. Aku diam, aku mengingat-ingat semua yang telah Shigeru lakukan untukku dan betapa banyak hal yang kubutuhkan untuk mewujudkan cita-citanya. "Ichiro pernah mengatakan tentang burung houou saat dia mengajarkan cara menulis namaku," akhirnya aku berkata. "Ketika bertemu dengannya di Hagi setahun lalu, dia menyarankan agar aku menunggunya di sini, namun aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kami harus ke Maruyama minggu ini juga." Aku mencemaskan guruku yang telah renta, aku tahu kedua paman Shigeru sedang mencoba merebut rumah dan tanahku di Hagi, tapi Ichiro terus bersikeras menolaknya.
|
||||||||
|
© WP Technology Inc. 2010
User-posted content is subject to its own terms. |