Wattpad   welcome!  login | sign up   Facebook Connect
 
Read what you like. Share what you write.
13
1,843 reads
1 comment
139 pages
Bahasa Indonesia
#101844
loojeb
loojeb

Nov 11, 2008
Become a fan

Brilliance Of The Moon - Kisah Klan Otori [Buku 3]

BRILLIANCE OF THE MOON - LIAN HEARN
~syauqi_arr@yahoo.co.id


SEHELAI bulu itu ada di telapak tanganku. Aku memegangnya dengan hati-hati, sadar akan usia dan kerapuhannya. Warnanya yang putih masih tembus cahaya, sedangkan ujung bulunya yang berwarna merah tampak berkilau. "Itu bulu burung suci, houou," ujar Matsuda Shingen, Kepala Biara Terayama.
"Burung itu muncul saat ayah angkatmu, Shigeru, berumur lima belas tahun, lebih muda dari kau saat ini. Dia pernah mengatakannya padamu, Takeo?" Aku mengangguk. Matsuda dan aku sedang berdiri di ruangannya, di ujung salah satu beranda yang dikelilingi halaman utama biara. Dari luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara
yang biasa terdengar di biara, lantunan doa dan bunyi lonceng, kemudian terdengar suara
orang yang berlalu-lalang. Aku mendengar Kaede, istriku, sedang berbicara dengan Amano
Tenzo di luar gerbang. Mereka sedang membicarakan masalah persediaan makanan untuk
pasukan selama di perjalanan. Kami sedang bersiap-siap berangkat ke Maruyama untuk
menuntut hak Kaede sebagai pewaris sah juga untuk merebutnya bila terpaksa. Sejak akhir
musim dingin, para ksatria berdatangan ke Terayama untuk bergabung denganku dan kini
pasukanku berjumlah ribuan orang, menginap di biara dan di desa sekitar, belum termasuk
para petani dari wilayah sekitar yang mendukung perjuanganku.
Amano berasal dari Shirakawa, tanah leluhur istriku. Dia adalah pengawal yang paling
Kaede percaya, penunggang kuda yang hebat dan ahli menjinakkan hewan. Beberapa hari
setelah kami menikah, Kaede dan pelayannya, Manami menunjukkan keahlian yang
mengagumkan dalam mengurus serta mendistribusikan makanan dan peralatan. Mereka
berdua mendiskusikan semuanya dengan Amano dan memintanya untuk menyampaikan
keputusan mereka pada seluruh pasukan. Pagi itu Amano sedang menghitung gerobak sapi
dan kuda beban yang dapat digunakan. Aku mencoba untuk berhenti mendengarkan,
berkonsentrasi pada apa yang sedang Matsuda katakan, tapi aku gelisah, ingin segera pergi
dari situ.
"Bersabarlah," ujar Matsuda ringan. "Sebentar saja. Apa yang kau tahu tentang burung
houou?"
Dengan enggan aku alihkan lagi perhatian pada bulu di telapak tanganku dan mencoba
mengingat-ingat apa yang guruku, Ichiro, pernah ajarkan saat aku masih di rumah Lord
Shigeru di Hagi. "Itu adalah burung suci yang akan muncul saat keadilan dan kedamaian
terwujud. Dan namanya ditulis dengan karakter huruf yang sama dengan tulisan nama klanku,
Otori."
"Benar," kata Matsuda sambil tersenyum. "Burung itu jarang muncul karena kini keadilan
dan kedamaian sangat langka. Tapi Shigeru melihatnya dan aku percaya penampakan itu
membuatnya terinspirasi untuk mewujudkan nilai-nilai kebajikan ini. Kemudian aku katakan
padanya bahwa bulu itu sudah bernoda darah, dan ternyata memang darah serta kematiannya
yang masih menggerakkan kita, kau dan aku."
Kulihat bulu itu lebih dekat lagi. Bulu itu tergeletak melintang di atas bekas luka di
telapak tangan kananku. Bekas luka terbakar yang sudah lama sekali kudapat, yaitu di Mino,
desa tempat kelahiranku, saat Shigeru menyelamatkanku. Di telapak tanganku juga tergambar
garis lurus Kikuta, keluarga Tribe, suku asalku. Warisan, masa lalu dan masa depanku tampak
di sana, dalam genggaman tanganku.
"Mengapa kau perlihatkan padaku?"
"Kau akan segera pergi. Kau telah bersama kami selama musim dingin, belajar dan
berlatih untuk memenuhi amanat terakhir Shigeru. Aku ingin kau tahu apa yang Shigeru lihat
untuk mengingatkan bahwa tujuan Shigeru adalah keadilan, sehingga tujuanmu juga harus
sama."
"Aku tidak akan melupakannya," aku berjanji. Aku membungkuk hormat pada bulu
burung itu, memegangnya hati-hati dengan dua tangan dan mengembalikannya ke tangan
Kepala Biara. Dia mengambilnya, memberi hormat lalu memasukkannya lagi ke dalam kotak
kecil tempat dia mengambilnya. Aku diam, aku mengingat-ingat semua yang telah Shigeru
lakukan untukku dan betapa banyak hal yang kubutuhkan untuk mewujudkan cita-citanya.
"Ichiro pernah mengatakan tentang burung houou saat dia mengajarkan cara menulis
namaku," akhirnya aku berkata. "Ketika bertemu dengannya di Hagi setahun lalu, dia
menyarankan agar aku menunggunya di sini, namun aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Kami harus ke Maruyama minggu ini juga." Aku mencemaskan guruku yang telah renta, aku
tahu kedua paman Shigeru sedang mencoba merebut rumah dan tanahku di Hagi, tapi Ichiro
terus bersikeras menolaknya.


Comments & Reviews ^top


Login to post your comment.


makasih y ats uploadnya....
Ryahna
Ryahna
Nov 14, 2008 01:13
reply spam