welcome!  login | sign up   Facebook Connect
 
Read what you like. Share what you write.

Posted by

maedhanie

on Nov 10, 2008
Become a fan

Bagampiran dalam Masyarakat Banjar

2


Bagampir atau bagampiran adalah persatuan dan perpaduan secara rohani antara dua roh, yakni, roh manusia yang hidup di alam dunia (fisik) dengan roh yang hidup di alam gaib (metafisik). Dalam kehidupan masyarakat Banjar, bagampiran adalah sesuatu yang realitas, bersifat personal dan magis, diakui dan dipercayai oleh masyarakat luas, karena dialami oleh orang-orang tertentu. Walaupun secara rasional-ilmiah agak sulit dibuktikan. Namun, berdasarkan penelitian-penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh berbagai ilmuwan di Barat, bagampiran sebagai fenomena metafisik merupakan suatu yang khas berkenaan dengan paham dan kepercayaan masyarakat Banjar terhadap roh dan alam gaib.
Makna
Tulisan ini merupakan ringkasan dari hasil penelitian berjudul: "Bagampiran dan Kepercayaan Masyarakat Banjar Terhadap Roh", yang saya lakukan dalam rentang waktu yang lumayan lama, dan masih dalam proses pengayaan informasi serta data. Namun saya rasa perlu untuk dipublikasikan, walaupun ala kadarnya.
Bagampiran cukup signifikan untuk diteliti, karena secara luas memperlihatkan berbagai permasalahan penting kepada kita berkenaan dengan kepercayaan orang Banjar terhadap roh (dunia jin dan alam gaib). Misalnya, apakah roh orang mati bisa berhubungan (bahkan bersatu atau bagampir) dengan roh orang hidup? Jika bisa, maka ketika mati ke mana atau di mana sebenarnya roh tersebut berada? Yang menggampiri tersebut apakah benar roh ataukah jin? Apakah benar manusia biasa (tokoh-tokoh tertentu) bisa berubah, tidak mati, dan menjadi penghuni alam gaib, sehingga bisa dihubungi? Apakah seseorang bisa pindah statusnya, dari penghuni alam dunia menjadi penghuni alam gaib? Jika bisa apakah kehidupannya di alam gaib dalam bentuk fisik ataukah dalam bentuk roh? dan lain-lain.
Menurut bahasa, bagampiran, terambil dari kata dasar gampir yang dalam kosa kata bahasa Banjar bermakna rekat, satu, atau dempet. Bagampir, berarti bersatu, menyatu, atau berdempet, yakni sesuatu yang menjadi satu atau berdempet, dua benda yang berdempet menjadi satu atau merekat, misalnya buah. Gampir bisa pula berarti bersatu atau menjadi satu sesuatu yang sama sifat dan jenisnya atau kembar.
Adapun yang dimaksud dengan gampir atau bagampir dalam konteks di sini bukan berarti merekat, berdempet, atau bersatunya suatu benda secara fisik, seperti yang umum terjadi pada buah (misalnya buah pisang), telur ayam, dan lain-lain. Tetapi, kata gampir atau bagampir yang dimaksudkan di sini berhubungan dengan persatuan dan perpaduan secara rohani antara dua roh,roh manusia yang hidup di alam nyata (dunia) dan satu lagi yang hidup di alam gaib (metafisik). Karena itu, kata bagampiran (mendapat awalan ba, yang sama dengan awalan ber) dan akhiran an berarti mereka yang memiliki gampiran. Gampiran adalah roh-roh dari alam gaib yang memasuki, merasuki, bersatu dengan roh manusia (orang yang digampiri). Digampiri berarti dimasuki, dirasuki, atau disusupi oleh roh (roh halus) yang berasal dari alam gaib.
Di samping itu, kata lain yang memiliki makna dan fenomena serupa dengan bagampiran adalah barasuk dan kesurupan.
Barasuk berarti menyatukan diri secara rohani dengan rohani orang lain yang dikehendaki untuk mendapatkan sesuatu (kekuatan, keterampilan, keahlian, atau kepandaian) pada saat-saat yang dikehendaki setelah melalui ritual tertentu (meditasi atau wiridan, misalnya).
Kasurupan atau kerasukan adalah orang yang terkena gangguan atau dirasuki oleh roh halus atau jin jahat, yang secara kejiwaan sering dikatakan kena pulasit. Karena itu kasurupan atau kerasukan bersifat negatif karena mengganggu atau menyakiti orang yang kerasukan tersebut. Sedangkan Bagampiran tidak bisa diminta atau diinginkan dan pada kebanyakan kasus tidak bisa pula ditolak. Sebab, bagampiran hanya terjadi pada orang-orang tertentu saja. Karenanya, bagampiran tidak berimplikasi negatif, tetapi dalam rangka memberi bantuan atau pertolongan kepada orang lain dan keluarga yang digampiri khususnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, sifat dari bagampiran adalah pasif dan positif, sifat dari barasuk aktif dan umumnya positif, sedangkan sifat dari kesurupan adalah pasif dan negatif. Semuanya bersifat sementara, tetapi bagampiran lebih permanen. Karena itu bagampiran berbeda dengan kesurupan, sebab walaupun orang yang digampiri atau dirasuki sama-sama tidak sadar tetapi kalau kesurupan lebih membawa mudharat kepada orang yang dirasuki sedangkan orang yang dimasuki gampirannya tidak apa-apa. Bahkan waktu-waktu terjadinya bagampiran itu adalah waktu-waktu yang biasanya memang diperlukan, misalnya karena ada orang meminta pertolongan dan hajat tertentu atau karena ada sesuatu yang bersifat penting yang hendak diberitahukan oleh gampirannya.
/ 3 Next Page

Comments & Reviews ^top


Login to post your comment.
Be the first to comment on this!


Recommended


"Tajau Kuyang" di Tuana Tuha. Cerita Daerah-Kalimantan Timur

Kuyang Banjar - Makhluk Langka yang Dicari

SUKU BANJAR

Kisah Si Palui (Bahasa Banjar)

Amang Mandur (Asal Mula Upacara Kematian Dayak Maanyan)

FIQIH WUDHU

"Jin,Iblis dan Syaithan"